nasionalTeknologi

ESDM Ingatkan EBT dan Kendaraan Listrik sebagai Kebutuhan, Bukan Pilihan

24
×

ESDM Ingatkan EBT dan Kendaraan Listrik sebagai Kebutuhan, Bukan Pilihan

Share this article

Kementerian ESDM: EV dan EBT Bukan Opsi, Tapi Kebutuhan Mendesak untuk Turunkan Emisi

Pengembangan kendaraan listrik (EV) dan energi baru terbarukan (EBT) kini tidak lagi dianggap sebagai pilihan kebijakan semata, melainkan kebutuhan mendesak bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan polusi dan emisi karbon. Hal ini disampaikan secara tegas oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dalam acara EVolution Indonesia Forum yang digelar oleh CNN Indonesia pada Selasa (3/2).

Eniya menjelaskan bahwa EV menjadi salah satu instrumen utama dalam menurunkan emisi, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang berkomitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim. “Selaras dengan kebijakan pemerintah untuk penurunan emisi, electric vehicle adalah salah satu poin yang harus kita cermati sebagai tools untuk menurunkan emisi,” ujarnya.

Integrasi EV dengan Hilirisasi dan Industrialisasi

Proses hilirisasi sumber daya alam sebagai bagian dari strategi pengembangan EV

Pengembangan EV, menurut Eniya, tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan upaya hilirisasi dan industrialisasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat ekonomi nasional. “Pemerintah menangkap bahwa electric vehicle harus jalan dengan upaya untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi serta meningkatkan nilai tambah,” tambahnya.

Dalam konteks ini, EV bukan hanya tentang transportasi ramah lingkungan, tetapi juga tentang transformasi industri yang lebih berkelanjutan. Dengan adanya pengembangan EV, Indonesia dapat membangun infrastruktur yang lebih kuat dan mempercepat transisi menuju sistem energi bersih.

Peran EBT dalam Mengurangi Polusi

Pembangkit energi surya sebagai contoh energi baru terbarukan yang dikembangkan di Indonesia

Selain sektor transportasi, Eniya menekankan peran krusial energi baru terbarukan dalam menekan polusi, khususnya di sektor ketenagalistrikan. Sejauh ini, sektor ini masih bergantung pada energi fosil, sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih.

“Di sisi lain kita juga harus menumbuhkan renewable energy karena salah satu solusi untuk menurunkan emisi,” katanya.

Pemerintah juga terus memperluas akses listrik berbasis energi bersih ke seluruh wilayah Indonesia. Tujuan utamanya adalah agar semua daerah terlistriki paling lambat pada 2029. Ini merupakan bagian dari agenda besar transisi energi yang diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Hasil Nyata Pengembangan EBT dan EV

Data statistik tentang penurunan emisi akibat pengembangan EBT dan EV

Menurut Eniya, upaya percepatan EBT dan EV telah menunjukkan hasil nyata, baik dari sisi penurunan emisi maupun perbaikan kualitas lingkungan. “Dengan adanya realisasi penambahan di sektor elektrifikasi ini, ini sudah membantu juga menurunkan emisi sebanyak 82,47 juta ton,” ujarnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah telah memberikan dampak signifikan. Namun, Eniya menegaskan bahwa upaya ini belum cukup. Pemerintah akan terus mengakselerasi pengembangan EV dan EBT agar transisi energi berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Tantangan dan Langkah Ke Depan

Masyarakat Indonesia menggunakan kendaraan listrik di jalan raya

Meski ada progres yang nyata, tantangan tetap ada. Dari sisi infrastruktur hingga kesadaran masyarakat, semua aspek perlu diperhatikan. Menurut Eniya, EV dan EBT adalah jalan tengah yang tepat untuk menghadapi isu lingkungan dan iklim.

“Jadi kita berharap salah satunya electric vehicle menjadi salah satu tools untuk menurunkan emisi ini,” tutupnya.

FAQ: Pertanyaan Umum Tentang EV dan EBT

1. Apa itu kendaraan listrik (EV)?

Kendaraan listrik adalah kendaraan yang menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggerak utama, bukan bahan bakar fosil seperti bensin atau solar.

2. Apa manfaat EBT bagi lingkungan?

EBT (Energi Baru Terbarukan) seperti energi surya, angin, dan hidro memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan energi fosil, sehingga membantu menurunkan emisi karbon.

3. Bagaimana pemerintah mendukung pengembangan EV dan EBT?

Pemerintah mendukung melalui kebijakan, investasi, dan program yang bertujuan untuk mempercepat transisi energi dan meningkatkan akses listrik berbasis energi bersih.

4. Apa tujuan pemerintah dalam pengembangan EV dan EBT?

Tujuan utamanya adalah menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi, dan menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

5. Kapan target pemerintah untuk menyediakan listrik bersih ke seluruh Indonesia?

Targetnya adalah semua daerah di Indonesia terlistriki paling lambat pada tahun 2029.

Kesimpulan

Pengembangan kendaraan listrik dan energi baru terbarukan bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan lingkungan dan iklim. Dengan komitmen pemerintah dan partisipasi seluruh stakeholder, transisi energi bisa berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Inovasi, kebijakan, dan kesadaran bersama adalah kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *