nasional Teknologi

Kepala Danantara Sebut Saham yang Turun Harga Sudah Terlalu Mahal

16
×

Kepala Danantara Sebut Saham yang Turun Harga Sudah Terlalu Mahal

Share this article

Ekonomi dan Bisnis: Saham yang Rontok Ternyata Sudah Terlalu Mahal, Kata CIO Danantara

Pasar saham Indonesia kembali mengalami volatilitas yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Banyak investor memperhatikan anjloknya sejumlah saham, termasuk emiten besar yang sebelumnya dianggap stabil. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menilai bahwa fenomena ini bukanlah kejutan. Menurutnya, banyak saham yang turun memang memiliki valuasi yang terlalu tinggi atau “kemahalan”.

Mengapa Saham Kemahalan Mengalami Koreksi?

Grafik pergerakan IHSG selama 1 bulan terakhir

Pandu menjelaskan bahwa meski aktivitas perdagangan cenderung menurun, sentimen pasar masih mendorong aksi beli dari investor asing. Namun, ia menyoroti bahwa banyak saham yang dinilai tidak layak untuk investasi jangka panjang, karena valuasinya terlalu tinggi.

“Memang banyak retail melihat banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi sangat tinggi mengalami koreksi,” ujar Pandu saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin (2/2).

Investasi Jangka Panjang Lebih Disarankan

Investor asing melakukan akumulasi beli di pasar saham

Meski ada tekanan pada pasar, Pandu menilai bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli saham berkualitas. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan fundamental, likuiditas, dan valuasi saham sebelum melakukan investasi.

“Untuk saham-saham yang punya valuasi yang baik, fundamental yang baik, likuiditas yang baik, maybe it’s a good time to buy,” katanya.

Ia juga mengingatkan investor agar tidak hanya fokus pada jangka pendek, tetapi lebih mempertimbangkan strategi jangka menengah hingga panjang.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Grafik IHSG sepanjang minggu terakhir

Pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam selama dua hari berturut-turut. Kondisi ini memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Penyebab utamanya adalah kebijakan MSCI yang membekukan perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia.

Kebijakan tersebut mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks.

IHSG Masih Tertekan Meski Ada Kenaikan Sementara

Awal pekan ini, IHSG masih berada di zona merah. Pada sesi I perdagangan hari ini, indeks naik 1,57 persen ke level 8.047 setelah investor asing mulai melakukan akumulasi beli. Namun, penurunan sebelumnya masih terasa cukup dalam.

Pada Rabu (28/1) sore, IHSG ditutup di level 8.320, turun 659,67 poin atau minus 7,35 persen dari perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (29/1) sore, indeks turun lagi 88,35 poin atau minus 1,06 persen.

Rekomendasi untuk Investor

Pandu Sjahrir sedang memberikan seminar tentang investasi saham

Bagi para investor, Pandu menyarankan untuk tetap memperhatikan data dan analisis fundamental. Ia menegaskan bahwa investasi harus dilakukan dengan visi jangka panjang, bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan cepat.

“Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi, kita harus membeli juga melihat saham-saham, dan ini bagus lah juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short-term. Investasi itu harus memikir medium to long-term,” jelasnya.

FAQ

Apa arti “saham kemahalan”?

Saham kemahalan merujuk pada saham yang memiliki valuasi terlalu tinggi dibandingkan dengan nilai dasarnya, sehingga sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang.

Mengapa IHSG mengalami penurunan?

Penurunan IHSG disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan MSCI yang membatasi kenaikan bobot saham Indonesia, serta sentimen pasar yang kurang positif.

Bagaimana strategi investasi yang disarankan?

Strategi investasi yang disarankan adalah fokus pada saham berkualitas dengan fundamental kuat, valuasi wajar, dan likuiditas baik, serta mempertimbangkan jangka panjang.

Apakah investor asing masih aktif?

Ya, investor asing mulai melakukan akumulasi beli, meskipun secara keseluruhan pasar masih dalam kondisi tertekan.

Apa dampak kebijakan MSCI terhadap pasar saham Indonesia?

Kebijakan MSCI menyebabkan penurunan kredibilitas saham-saham Indonesia di pasar internasional, yang berdampak pada penurunan indikator seperti IHSG.

Kesimpulan

Pergerakan pasar saham Indonesia yang fluktuatif menunjukkan pentingnya memahami nilai dasar saham dan strategi investasi yang matang. Pandu Sjahrir menegaskan bahwa saham yang rontok bukanlah kejutan, tetapi bagian dari proses penyesuaian valuasi. Dengan memperhatikan fundamental dan menjaga pandangan jangka panjang, investor dapat tetap optimis meski situasi pasar tidak selalu stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *