Sinyal Bahaya dari Hino: Bisa Muncul Kasus Sritex di Kendaraan Niaga
Kondisi industri kendaraan niaga di Indonesia kini menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) mengungkapkan bahwa serbuan truk impor asal Tiongkok telah memengaruhi produksi dalam negeri secara signifikan. Jika tidak segera diatasi, perusahaan khawatir akan terjadi tragedi serupa dengan kasus Sritex di sektor tekstil.
Penurunan Produksi yang Mengkhawatirkan
Harianto Sariyan, Direktur HMMI, menyampaikan bahwa utilitas produksi di pabrik Hino pada 2025 hanya tersisa 25 persen dari kapasitas terpasang sebanyak 75 ribu unit per tahun. Angka ini menunjukkan tekanan besar akibat masuknya truk impor murah. Menurut dia, kondisi ini bisa berdampak pada keberlanjutan bisnis dan bahkan ancaman tutup pabrik.
“Jika ini terus menerus, industri akan berat dan tutup bisa jadi. Sritex kedua bisa terjadi tapi di industri otomotif komersial,” ujarnya saat berbicara di pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat.
Data Produksi yang Menurun Drastis
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), produksi Hino pada 2025 turun 22,6 persen menjadi 18.450 unit. Angka ini lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 24.158 unit. Selain itu, wholesales pada 2025 juga turun menjadi 18.367 unit, sementara retailnya mencapai 20.517 unit.
“Kami masih berusaha untuk tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pegawai, yang saat ini berjumlah 1.548 tenaga kerja,” tambah Harianto.
Dampak pada Sektor Karoseri Lokal
Selain menekan produksi Hino, serbuan truk impor juga berdampak pada sektor karoseri lokal. Harianto menjelaskan bahwa banyak perusahaan karoseri mengalami penurunan permintaan karena truk impor datang dalam bentuk utuh dengan bodi yang sudah terpasang. Berbeda dengan industri kendaraan niaga buatan dalam negeri yang biasanya bekerja sama dengan produsen karoseri lokal.
“Para karoseri sangat berat karena produk kami keluar ke mereka. Tapi truk China itu sudah termasuk bodi jadi, tinggal pakai saja,” jelasnya.
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan
Meski menghadapi tantangan besar, Hino tetap berkomitmen untuk bertahan di Indonesia. Perusahaan melalui berbagai strategi seperti penghematan biaya, penguatan produk, hingga layanan aftersales kepada konsumen. Hal ini dilakukan agar dapat bertahan dalam situasi yang semakin sulit.
“Kami tetap berkomitmen di Indonesia, bahkan sampai melakukan penghematan dan memperkuat layanan pelanggan,” kata Harianto.
FAQ
Apa penyebab utama penurunan produksi Hino?
Penurunan produksi Hino disebabkan oleh serbuan truk impor murah asal Tiongkok yang mengancam industri kendaraan niaga nasional.
Apakah Hino mengancam PHK karyawan?
Hino belum melakukan PHK karyawan, meskipun produksi menurun drastis. Perusahaan masih berusaha untuk mempertahankan tenaga kerja.
Bagaimana dampak truk impor terhadap karoseri lokal?
Truk impor yang datang dalam bentuk utuh dengan bodi yang sudah terpasang mengurangi permintaan dari karoseri lokal.
Apa langkah Hino untuk bertahan di pasar?
Hino melakukan penghematan biaya, penguatan produk, serta meningkatkan layanan aftersales kepada konsumen.
Apakah ada potensi terjadinya kasus Sritex di industri otomotif?
Hino mengkhawatirkan terjadinya tragedi serupa dengan Sritex jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi.
Kesimpulan
Industri kendaraan niaga di Indonesia kini menghadapi tantangan besar akibat serbuan truk impor. Hino, sebagai salah satu produsen utama, memberikan sinyal peringatan bahwa jika tidak segera diatasi, potensi terjadinya kasus Sritex di sektor otomotif bisa terjadi. Meskipun demikian, Hino tetap berkomitmen untuk bertahan dengan berbagai strategi. Kepedulian terhadap industri lokal dan perlindungan terhadap pekerja harus menjadi prioritas bersama.












