Kesehatan

Tanda-tanda depresi pada anak yang sering diabaikan orang tua

17
×

Tanda-tanda depresi pada anak yang sering diabaikan orang tua

Share this article

Tanda Depresi pada Anak yang Sering Diabaikan Orang Tua

Kasus dugaan bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat bahwa tanda-tanda depresi pada anak sering kali terlewat dari perhatian orang tua maupun lingkungan sekitar. Padahal, gejala depresi pada anak biasanya sudah muncul jauh sebelum kondisi memburuk. Sayangnya, tanda-tanda tersebut kerap dianggap sebagai perilaku normal anak sehingga tidak segera ditangani secara serius.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan bahwa depresi pada anak memiliki spektrum gejala yang luas dan sering kali tumpang tindih dengan fase perkembangan usia kanak-kanak. “Tandanya itu banyak dan sering kali overlap dengan ciri-ciri usia anak. Jadi mungkin akan menyulitkan buat lingkungannya, terutama keluarga, untuk mendeteksi sedari awal,” kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/2).

Perubahan Perilaku yang Mengkhawatirkan

Salah satu tanda paling umum adalah perubahan perilaku. Anak yang sebelumnya ceria dan aktif bisa tiba-tiba menjadi lebih pendiam dan menarik diri, baik di rumah maupun di sekolah. Perubahan ini sering kali dianggap sebagai fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi indikasi awal adanya gangguan mental.

Gelisah dan Sensitif

Anak yang mengalami depresi juga cenderung tampak lebih gelisah, sensitif, dan mudah tersinggung. Mereka dapat terlihat tidak nyaman dalam interaksi sosial dan lebih mudah terganggu oleh hal-hal kecil. Pada usia sekolah dasar, tanda-tanda ini sebenarnya dapat terdeteksi jika orang tua maupun guru cukup peka terhadap perubahan sikap anak dalam keseharian.

Menarik Diri dan Lesu

Selain gelisah, anak yang mengalami depresi dapat menunjukkan penurunan energi yang cukup jelas. “Anak yang tadinya riang bermain bisa jadi menarik diri, terlihat lesu, lunglai, tidak bersemangat, dan kurang responsif, baik dalam komunikasi maupun aktivitas belajar di kelas,” ujar Mira. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai anak yang malas atau hanya kelelahan, padahal bisa menjadi sinyal awal gangguan kesehatan mental.

Gangguan Tidur yang Perlu Diwaspadai

Gangguan pola tidur juga menjadi salah satu tanda penting yang perlu diwaspadai. Anak dapat mengalami kesulitan tidur, tidur gelisah, sering terbangun di malam hari, atau justru tidur berlebihan, terutama pada fase prapubertas. Gangguan tidur ini umumnya berdampak pada aktivitas anak di siang hari, membuat mereka lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan semangat untuk beraktivitas seperti biasanya.

Pentingnya Deteksi Awal

Mira menegaskan, semakin cepat gejala depresi dikenali oleh keluarga dan lingkungan, semakin besar peluang anak untuk pulih. “Segala macam gangguan itu semakin cepat diketahui keluarga, penanganannya akan semakin baik dan prognosisnya juga lebih positif,” kata dia.

FAQ

Apa saja tanda depresi pada anak yang perlu diwaspadai?

Beberapa tanda depresi pada anak yang perlu diwaspadai meliputi perubahan perilaku, gelisah dan sensitif, menarik diri dan lesu, serta gangguan tidur.

Bagaimana cara orang tua mengenali tanda depresi pada anak?

Orang tua dapat mengenali tanda depresi dengan memperhatikan perubahan sikap dan perilaku anak, seperti menjadi lebih pendiam, lesu, atau sulit berinteraksi dengan orang lain.

Apakah gangguan tidur bisa menjadi tanda depresi pada anak?

Ya, gangguan tidur seperti kesulitan tidur, tidur gelisah, atau tidur berlebihan bisa menjadi tanda awal depresi pada anak.

Mengapa tanda depresi pada anak sering terabaikan?

Tanda depresi pada anak sering terabaikan karena gejalanya sering kali tumpang tindih dengan fase perkembangan usia kanak-kanak, sehingga dianggap sebagai perilaku normal.

Bagaimana penanganan depresi pada anak bisa dilakukan?

Penanganan depresi pada anak bisa dilakukan dengan deteksi dini, dukungan psikologis, dan keterlibatan keluarga serta lingkungan sekitar.

Kesadaran orang tua, keluarga, dan sekolah untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak menjadi langkah awal agar tragedi serupa tidak kembali terulang. Setiap perubahan kecil dalam perilaku anak harus dilihat sebagai sinyal penting, bukan sekadar fase tumbuh kembang. Dengan pemahaman yang lebih baik, kita bisa memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *