Gubernur BI Tanggapi Moody’s yang Pangkas Outlook Kredit RI Jadi Negatif
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan pernyataan resmi terkait keputusan lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, yang memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Penyesuaian ini dilakukan setelah melihat berbagai faktor risiko yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Meski demikian, Perry menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap dalam kondisi solid dan tidak mengalami pelemahan fundamental.
Perekonomian Indonesia Tetap Solid
Perry Warjiyo menekankan bahwa penyesuaian outlook oleh Moody’s tidak mencerminkan kelemahan perekonomian Indonesia. “Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid,” ujarnya dalam keterangan resmi. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,39 persen pada kuartal IV 2025, sehingga secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,1 persen pada tahun lalu.
Selain itu, inflasi masih terjaga di kisaran 2,9 persen, sesuai target yang ditetapkan. BI juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, meskipun menghadapi tekanan dari situasi global yang tidak menentu.
Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga

Stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran juga terus berkembang, dipengaruhi oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat. Faktor-faktor ini turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kemajuan digitalisasi sistem pembayaran telah meningkatkan efisiensi dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan,” tambah Perry.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan

Bank Indonesia memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan tetap solid. Pada 2026, laju pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 4,9-5,7 persen, didukung oleh kenaikan permintaan domestik dan berbagai kebijakan pemerintah. Pada 2027, proyeksi pertumbuhan ekonomi naik sedikit menjadi 5,1-5,9 persen, sementara inflasi tetap terkendali.
“Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ini sangat bergantung pada kebijakan yang konsisten dan komunikasi yang baik antara BI dan pemerintah,” ujar Perry.
Ketahanan Eksternal Perekonomian Kuat
Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, didukung oleh kinerja neraca perdagangan yang solid. Pada Desember 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$2,51 miliar, didukung oleh ekspor nonmigas yang berasal dari sektor sumber daya alam maupun manufaktur.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025, yang setara dengan pembiayaan selama 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Nilai Tukar Rupiah Diproyeksikan Stabil

Nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat pada masa mendatang. Hal ini didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang positif. BI juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas Rupiah dengan kebijakan yang tepat dan koordinasi yang erat dengan pemerintah.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tambah Perry.
Moody’s Pertahankan Rating Kredit Indonesia
Meski outlook kredit Indonesia dipangkas menjadi negatif, Moody’s mempertahankan rating kredit negara tersebut pada Baa2. Dalam laporannya, Moody’s menyatakan bahwa afirmasi rating ini mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stabil dan didukung oleh kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan.
FAQ
Apa arti penurunan outlook kredit oleh Moody’s?
Penurunan outlook kredit oleh Moody’s menunjukkan bahwa ada risiko yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. Namun, hal ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian.
Bagaimana tanggapan Bank Indonesia terhadap keputusan Moody’s?
Bank Indonesia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap dalam kondisi solid dan tidak mengalami pelemahan fundamental. BI akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif?
Ya, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif dalam jangka menengah, dengan angka berkisar antara 4,9-5,7 persen pada 2026 dan 5,1-5,9 persen pada 2027.
Bagaimana posisi cadangan devisa Indonesia?
Cadangan devisa Indonesia terus meningkat, mencapai US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025, yang lebih tinggi dari standar kecukupan internasional.
Apa yang membuat nilai tukar Rupiah stabil?
Nilai tukar Rupiah stabil karena adanya imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif. BI juga aktif menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang tepat.
(Read also: Profil Sepak Terjang Juda Agung yang Kini Jadi Wamenkeu Bantu Purbaya)
(Read also: Kemenkeu Buka Suara Usai Moody’s Pangkas Outlook Kredit Jadi Negatif)
(Read also: IHSG Diproyeksi Berotot Jelang Akhir Pekan)
Kesimpulan
Perekonomian Indonesia tetap dalam kondisi solid meski menghadapi tantangan dari penurunan outlook kredit oleh Moody’s. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Pertumbuhan ekonomi yang positif dan ketahanan eksternal yang kuat menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghadapi tantangan global dengan strategi yang tepat.










