nasional Teknologi

Krakatau Steel Sebut Baja Murah Tiongkok Tekan Industri Dalam Negeri

22
×

Krakatau Steel Sebut Baja Murah Tiongkok Tekan Industri Dalam Negeri

Share this article

Perusahaan Baja Nasional Kritik Impor Baja Murah China yang Mengancam Industri

Perusahaan baja nasional, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, mengungkapkan bahwa masuknya produk baja murah dari Tiongkok telah memberikan tekanan signifikan terhadap industri baja dalam negeri. Dampaknya, tingkat utilisasi pabrik baja di Indonesia masih berada di bawah 60 persen, yang menunjukkan penurunan produksi dan daya saing yang semakin melemah.

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan bahwa impor baja murah dari Tiongkok telah mendistorsi pasar dan mengurangi peluang produsen lokal untuk bersaing. “Kami hitung kurang lebih potensi impor Indonesia dari kebutuhan baja mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI.

impor baja China ke Indonesia

Selain itu, Akbar juga menyoroti relokasi pabrik baja asal Tiongkok ke Indonesia selama 10-12 tahun terakhir. Penggunaan teknologi induction furnace (tungku induksi) dalam proses produksi ini dinilai memperparah persaingan di pasar baja nasional.

“Induction furnace ini juga berkaitan dengan pengimporan scrap yang tercemar bahan nuklir. Ini bisa berdampak luas,” tambahnya.

teknologi induction furnace dalam produksi baja

Tekanan dari impor baja murah tersebut telah memengaruhi operasional industri baja dalam negeri. Salah satu joint venture Krakatau Steel, Krakatau Osaka Steel, akan menghentikan operasinya pada April mendatang. Sebelumnya, penutupan pabrik baja long product di Surabaya juga terjadi karena tidak mampu bersaing dengan maraknya impor baja murah.

Lima Permintaan Krakatau Steel kepada Pemerintah

penjualan baja Krakatau Steel meningkat

Untuk mengatasi kondisi ini, Krakatau Steel mengajukan lima dukungan kepada pemerintah. Pertama, penataan tata niaga impor agar lebih terkendali. Kedua, percepatan bea masuk anti-dumping untuk melindungi industri lokal. Ketiga, penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) guna meningkatkan keterlibatan produsen lokal.

Keempat, perluasan kewajiban Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk impor sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kelima, penguatan regulasi untuk mencegah praktik monopoli dan perdagangan tidak sehat.

Performa Keuangan Krakatau Steel yang Membaik

Meski menghadapi tantangan besar, Krakatau Steel mencatatkan perbaikan kinerja keuangan. Pada 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$955 juta atau sekitar Rp16 triliun (berdasarkan kurs Rp16.790 per dolar AS), naik 0,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh transformasi operasional, efisiensi biaya, dan fokus pada segmen dengan margin tinggi.

Volume penjualan baja Krakatau Steel juga tumbuh signifikan sebesar 29 persen menjadi 945 ribu ton sepanjang satu tahun terakhir. Upaya perseroan untuk memperkuat fundamental perusahaan dan memperluas akses pasar berhasil memberikan dampak positif.

Persaingan Global dan Kebijakan yang Diperlukan

industri baja nasional di tengah persaingan global

Dalam situasi ketidakpastian global, industri baja nasional harus memiliki strategi yang lebih kuat untuk bertahan. Krakatau Steel menekankan pentingnya kebijakan yang pro-keadilan dan perlindungan terhadap produsen lokal. Dengan adanya regulasi yang tepat, industri baja dalam negeri dapat kembali pulih dan berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa penyebab impor baja murah dari Tiongkok mengancam industri baja nasional?

Impor baja murah dari Tiongkok mengancam industri baja nasional karena harga yang lebih rendah membuat produsen lokal kesulitan bersaing. Selain itu, masuknya teknologi baru seperti induction furnace juga memperketat persaingan.

Bagaimana Krakatau Steel merespons tekanan impor baja?

Krakatau Steel mengajukan lima permintaan kepada pemerintah, termasuk penataan tata niaga impor, percepatan bea masuk anti-dumping, penerapan TKDN, perluasan kewajiban SNI, dan penguatan regulasi.

Apakah kinerja keuangan Krakatau Steel membaik?

Ya, pada 2025, Krakatau Steel mencatatkan pendapatan sebesar US$955 juta atau sekitar Rp16 triliun, naik 0,4 persen dari tahun sebelumnya. Volume penjualan juga tumbuh 29 persen menjadi 945 ribu ton.

Apa dampak dari teknologi induction furnace terhadap industri baja?

Teknologi induction furnace yang digunakan oleh produsen baja asal Tiongkok memengaruhi pasar baja nasional. Teknologi ini juga dikaitkan dengan pengimporan scrap yang tercemar bahan nuklir, yang bisa berdampak negatif.

Bagaimana masa depan industri baja nasional?

Masa depan industri baja nasional sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang pro-keadilan dan perlindungan terhadap produsen lokal. Dengan regulasi yang tepat, industri baja dapat kembali pulih dan berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *