Mendorong Perumahan Berkelanjutan, BTN Targetkan 20.000 Rumah Rendah Emisi di Tahun 2026
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mengambil langkah strategis dalam mendukung pengembangan perumahan yang ramah lingkungan. Dengan target mencapai 20.000 unit rumah rendah emisi pada tahun 2026, BTN menunjukkan komitmen kuat terhadap prinsip green banking dan penerapan praktik perbankan berkelanjutan.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa hingga akhir 2025, bank pelat merah ini telah menyalurkan pembiayaan untuk pembangunan 11 ribu rumah rendah emisi. Proyek-proyek tersebut tersebar di berbagai daerah seperti Legok (Banten), Cileungsi (Kabupaten Bogor), Medan, Semarang, Cirebon, dan Bekasi. Dengan peningkatan angka ini, BTN berharap bisa mencapai 20 ribu unit pada 2026, bahkan hingga 30 ribu jika memungkinkan.
Program Rumah Rendah Emisi BTN: Inovasi dari Kemitraan dengan Startup

Program Rumah Rendah Emisi BTN pertama kali diluncurkan pada kuartal IV-2024 bersama sejumlah developer. Awalnya, targetnya adalah 1.000 unit rumah rendah emisi dalam tiga bulan. Kini, setelah dua tahun berjalan, program ini telah berkembang pesat dengan dukungan dari berbagai mitra startup yang memproduksi material ramah lingkungan.
Beberapa startup seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick telah berkontribusi dalam pengurangan polusi dengan mengolah sampah plastik menjadi bahan bangunan seperti flooring, paving, dan dinding. Mereka mengumpulkan sampah dari bungkus mie instan serta sachet sabun dan sampo, yang selanjutnya diolah menjadi produk yang berguna dalam konstruksi.
“Setiap produsen memiliki produk yang berbeda-beda namun mereka saling melengkapi,” ujar Setiyo. “Dengan rumah rendah emisi ini justru kita menciptakan beberapa startup baru di bidang recycle plastik.”
Mengajak Generasi Muda Berinovasi: BTN Housingpreneur

Untuk mencari startup berpotensi, BTN menggelar ajang kompetisi tahunan bernama BTN Housingpreneur. Ajang ini telah melahirkan banyak inovasi yang mendukung sektor perumahan. Salah satu alumni terkenal adalah Plustik, yang dibangun oleh Reza Hasfinanda, yang kini bekerja sama dengan developer rumah rendah emisi.
Pada tahun 2025, BTN Housingpreneur ditutup dengan total 1.170 submission, yang menghasilkan 26 pemenang dari 58 finalis. Kompetisi ini diikuti oleh para pelaku industri perumahan, akademisi, arsitek, dan manajemen BTN.
Insentif untuk Developer dan Nasabah KPR

Untuk lebih mendorong partisipasi developer, BTN akan menstandarisasi insentif yang diberikan kepada mereka. Misalnya, suku bunga kredit untuk developer rumah rendah emisi akan diturunkan sebesar 25 basis poin. Selain itu, BTN juga akan memberikan berbagai bentuk insentif lainnya.
Selain itu, BTN melibatkan nasabah KPR dalam pengurangan emisi karbon melalui program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”. Program ini memungkinkan debitur KPR BTN mengumpulkan sampah rumah tangga melalui startup Rekosistem. Sampah kemudian dikonversi menjadi rupiah yang masuk ke tabungan nasabah untuk mengurangi angsuran KPR.
“Program ini bisa mengurangi cicilan KPR sekitar 10-15% per bulannya atau sekitar Rp100.000-150.000,” ujar Setiyo. Program ini juga mendapat apresiasi dari Ratu Belanda Queen Maxima saat kunjungannya ke Indonesia pada 2025 lalu.
ESG sebagai Fondasi Bisnis BTN
Komitmen BTN terhadap keberlanjutan tidak hanya terlihat dari program perumahan, tetapi juga dalam penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG). Pada 2025, BTN berhasil meraih ESG Rating AA berdasarkan MSCI ESG Ratings, menjadikannya bank terdepan di antara seluruh perbankan nasional dalam hal komitmen ESG.
Selain itu, portofolio ESG BTN juga mencakup pembiayaan kepemilikan rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), yang merupakan bagian dari aspek sosial dalam ESG.
Tantangan dan Peluang di Tahun 2026
BTN berharap dapat meningkatkan total loan portfolio-nya di sustainability atau ESG menjadi 60% pada 2026 dari 52% saat ini. Untuk mencapai target ini, bank harus terus memperluas kolaborasi dengan developer, startup, dan nasabah.
Dengan komitmen kuat dan inovasi yang terus berkembang, BTN siap menjadi pelopor dalam pengembangan perumahan berkelanjutan di Indonesia. Program ini tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
(Read also: Inovator Muda BTN Housingpreneur 2025 Siap Dorong Sektor Perumahan)
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu rumah rendah emisi?
Rumah rendah emisi adalah jenis perumahan yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan, biasanya menggunakan bahan bangunan ramah lingkungan dan teknologi efisien energi.
Bagaimana cara mengikuti program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu”?
Nasabah KPR BTN dapat mengumpulkan sampah rumah tangga melalui startup Rekosistem. Sampah yang dikumpulkan kemudian dikonversi menjadi rupiah yang masuk ke tabungan nasabah.
Apakah program rumah rendah emisi hanya untuk kalangan tertentu?
Tidak. Program ini terbuka untuk semua developer dan nasabah yang ingin berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
Apa manfaat dari program ESG BTN?
Program ESG BTN membantu mengurangi emisi karbon, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembiayaan rumah bersubsidi.
Bagaimana BTN menilai keberhasilan program ini?
BTN menilai keberhasilan berdasarkan jumlah unit rumah rendah emisi yang dibangun, tingkat partisipasi developer dan nasabah, serta pencapaian target ESG.
Penutup
BTN telah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Melalui program rumah rendah emisi, kolaborasi dengan startup, dan inovasi layanan keuangan, BTN tidak hanya menjalankan bisnis, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih baik. Dengan visi yang jelas dan kerja keras, BTN siap menjadi contoh bagi perbankan nasional dalam mewujudkan keberlanjutan.










