Kenaikan Risiko Lender Pinjol: Pengalaman Dana Syariah Indonesia yang Menggelisahkan
Kasus gagal bayar sebesar Rp1 triliun dari PT Dana Syariah Indonesia (DSI) menjadi peringatan keras bagi para pemberi pinjaman online (pinjol). Dalam laporan terbaru, dana yang dikumpulkan dari 3.312 lender mencapai Rp1.004.571.508.599 pada 18 November 2025, namun kini menghadapi tantangan besar akibat ketidakstabilan sistem keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan sanksi pembatasan kegiatan usaha (PKU) kepada DSI agar fokus menyelesaikan utangnya.
Pertumbuhan P2P Lending yang Cepat dan Risikonya
Perkembangan industri peer-to-peer (P2P) lending di Indonesia memang pesat, dengan total outstanding pinjaman mencapai Rp78,50 triliun pada Januari 2025, naik 29,94 persen secara tahunan. Data OJK juga menunjukkan peningkatan hingga Rp80,02 triliun pada Maret 2025 dan tembus Rp80,94 triliun di bulan berikutnya. Namun, pertumbuhan ini juga membawa risiko yang signifikan.
Menurut Perencana Keuangan Finante Rahma Maryama, sebanyak 20 penyelenggara P2P lending memiliki TWP90 (kredit macet) di atas 5 persen, berada di zona merah. Ini menunjukkan bahwa tidak semua platform aman untuk investor.
Tips Penting Sebelum Menjadi Lender Pinjol
Rahma menyampaikan enam poin penting yang harus diperhatikan oleh calon lender:
-
Imbal Hasil Tinggi = Risiko Tinggi
Imbal hasil P2P lending berkisar antara 10-18% per tahun, jauh lebih tinggi dibanding deposito syariah atau obligasi pemerintah. Investor harus siap dengan potensi kerugian jika dana tersebut tidak siap hilang. -
Jangan Gunakan Dana Darurat atau Kebutuhan Hidup
P2P lending hanya cocok untuk dana investasi berisiko, bukan dana kebutuhan hidup seperti pendidikan atau pengeluaran rumah tangga. -
Diversifikasi Investasi
Jangan hanya mengandalkan P2P lending. Sebaiknya sebarkan dana ke berbagai instrumen seperti deposito, obligasi, saham, emas, atau properti. -
Cek Angka Kredit Macet dan Rekam Jejak Platform
Pastikan platform yang dipilih memiliki catatan keuangan yang baik dan manajemen yang transparan. -
Batas Porsi Investasi
Investor pemula disarankan tidak melebihi 5% dari portofolio, sedangkan investor berpengalaman bisa menyesuaikan sesuai risiko. -
Siapkan Exit Plan dan Terima Kemungkinan Kerugian
P2P lending bukan instrumen likuid, sehingga pencairan dana bergantung pada peminjam dan platform. Siapkan skenario pembayaran terlambat atau dana tidak kembali sepenuhnya.
Kondisi Ekonomi yang Memperburuk Risiko
Shierly, Head of Advisory & Financial Planner Finansialku, menyoroti bahwa pelemahan daya beli dan perlambatan ekonomi membuat likuiditas menjadi faktor penting. Ia menegaskan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjadi lender, karena banyak fintech yang menyalahgunakan dana dan manipulasi data peminjam.
“Risiko gagal bayar dan likuiditas jauh lebih tinggi daripada potensi return,” ujar Shierly. Ia menilai, baik pinjol syariah maupun konvensional sama-sama tidak direkomendasikan dalam kondisi saat ini, terlebih aturan dan pengawasan belum sepenuhnya optimal.
FAQ
Apa itu P2P lending?
P2P lending adalah sistem pinjaman online yang menghubungkan pemberi dana langsung dengan peminjam tanpa melalui lembaga keuangan tradisional.
Bagaimana cara mengecek risiko lender?
Anda dapat mengecek angka kredit macet (TWP90), laporan keuangan, dan rekam jejak manajemen platform.
Apakah P2P lending aman untuk dana darurat?
Tidak, P2P lending tidak direkomendasikan untuk dana darurat karena risiko kehilangan dana sangat tinggi.
Bagaimana diversifikasi investasi yang baik?
Sebarkan dana ke berbagai instrumen seperti deposito, obligasi, saham, emas, atau properti sesuai kebutuhan.
Apakah lender bisa mencairkan dana kapan saja?
Tidak, pencairan dana bergantung pada peminjam dan platform, sehingga tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu.
Kesimpulan
Kasus gagal bayar PT Dana Syariah Indonesia menjadi peringatan penting bagi seluruh lender pinjol di Indonesia. Meskipun pertumbuhan industri P2P lending sangat pesat, risiko yang terkait juga meningkat. Dengan memahami karakteristik investasi ini, serta melakukan diversifikasi dan pengelolaan risiko yang tepat, investor dapat tetap menjaga keamanan dana mereka.












